Kekurangan Zat Besi Membuat Anak Mogok Makan

kekurangan zat besi

Pernahkah Anda mengalami masalah dimana anak Anda tidak mau makan atau susah untuk makan? Ketika anak telah menginjak usia 6-12 bulan, normalnya telah diperkenalkan dengan MPASI untuk menghindari masalah pada pertumbuhannya. Tetapi, tidak selamanya memberikan MPASI pada anak dapat berjalan dengan lancar.  Banyak orang tua yang mendapati anaknya melakukan mogok makan atau bisa disebut juga dengan melakukan gerakan tutup mulut (GTM), yang tanpa disadari dapat menyebabkan kurangnya zat besi pada anak.

Apakah kekurangan zat besi dapat memicu anak mogok makan ? Menurut penjelasan IDAI, balita yang telah menginjak usia 6-12 bulan mengalami pertumbuhan yang begitu cepat sehingga rentan terserang penyakit Anemia Defisiensi Besi atau kekurangan zat besi. Kondisi ini umumnya terjadi pada balita yang hanya meminum ASI tanpa diberikan MPASI meski telah menginjak usia 6 bulan. Pada anak usia 6 -12 bulan, ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan  zat besi yang semakin meningkat.

Kekurangan zat besi juga disebabkan karena balita mendapat MPASI tapi zat besi pada MPASI-nya belum dapat memenuhi kebutuhan harian. Misalnya, balita yang jarang mengkonsumsi MPASI dari olahan daging ataupun hati ayam yang diketahui memiliki banyak kandungan zat besi.

Salah satu pengaruh kekurangan zat besi pada anak adalah hilangnya nafsu makan sehingga melakukan gerakan tutup mulut. Pada akhirnya dapat membentuk salah satu rantai penyakit yang sulit untuk terputus. Untuk memutus mata rantai penyakit tersebut, usahakan ketika Si Kecil melakukan mogok makan dan berat badannya tidak mengalami kenaikan, segera konsultasikan kondisi ini pada dokter spesialis anak. Jika terdapat kecurigaan penyakit kekurangan zat besi , biasanya dokter meminta  untuk melakukan proses skrining anemia defisiensi besi agar mengetahui sejauh mana kecurigaan tersebut.

Kalau si kecil terbukti menderita penyakit anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi, dokter akan memberikan resep suplemen zat besi dalam bentuk tablet maupun sirup dengan tujuan untuk membantu mengembalikan kadar zat besinya agar tetap normal.

Pola makan Si Kecil harus segera diubah, misalnya dengan menambahkan makanan yang kaya akan zat besi pada MPASI-nya. Contohnya, sereal yang diperkaya zat besi, kacang-kacangan, kuning telur, sayuran berdaun hijau tua seperti kangkung dan bayam, hati ayam, daging sapi, daging ayam dan daging ikan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah Anda sebagai orang tua harus lebih optimal dan efektif untuk melakukan skrining ADB pada si Kecil  setiap 6 bulan sekali. Selanjutnya yaitu dengan memberikan makanan yang memiliki banyak kandungan zat besi untuk menghindari Si Kecil terserang kurang darah Defisiensi Besi atau kekurangan zat besi agar tidak melakukan gerakan tutup mulut yang dapat mengakibatkan tumbuh kembangnya terganggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *