Makanan Sebagai Penambah Darah

Pusing merupakan sebuah penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Penyakit ini tergolong penyakit yang enteng karena Anda tinggal istirahat sejenak maka pusing akan hilang. Tetapi jika Anda terus menerus merasakan pusing, bisa jadi itu tergolong suatu gejala akan penyakit lain yang lebih serius. Sebenarnya ada berbagai penyakit yang memiliki gejala pusing. Penyakit-penyakit tersebut merupakan tekanan darah tinggi serta anemia (kekurangan darah). Jika gejala pusing ini terasa semakin kronis, alangkah baiknya jika Anda mulai mengkonsumsi penambah darah, sayuran penambah darah, buah penambah darah, dan obat penambah darah.

Jika Anda sesekali merasa mudah letih, lemas, dan merasa lesu, itu bisa jadi gejala penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah. Maka dari itu, ada cara yang ampuh untuk mencegah penyakit yang berhubungan dengan pusing karena kekurangan darah adalah dengan mengkonsumsi tambahan makanan penambah darah atau obat penambah darah hingga hemoglobin di dalam tubuh Anda naik. Apa itu hemoglobin? Hemoglobin merupakan protein yang mengandung zat besi dan protein yang terdapat pada sel darah merah. Sel darah merah memiliki fungsi utama untuk mengangkut oksigen dalam tubuh kita. Anemia juga dapat terjadi jika tubuh Anda kekurangan vitamin C, vitamin B1, serta asam folat. Anemia dapat diatasi dengan cara mengkonsumsi makanan penambah darah seperti ikan laut, daging dan kacang-kacangan, dan juga mengkonsumsi buah penambah darah, sayuran penambah darah, dan obat penambah darah. Lalu apa saja contoh jenis makanan yang dapat dikonsumsi agar bisa mengobati anemia?

Makanan Penambah Darah Yang Bergizi

Berikut ini ada beberapa zat yang terdapat di dalam makanan yang dapat dijadikan obat penambah darah. Kandungan zat ini sangat ampuh untuk mengobati penyakit kurang darah, dibawah ini merupakan beberapa contoh makanan penambah darah:

  1. Makanan yang mengandung vitamin A, banyak sekali jenis makanan yang mengandung vitamin A seperti wortel, melon, keruk, semangka, manga, apricot, dan plum. Makanan ini dapat menyokong tubuh kita agar zat besi masuk ke dalam hemogoblin untuk mengikat oksigen. Buah-buahan tersebut berfungsi untuk memperbanyak jumlah sel darah merah dan menjaga kesehatan mata.
  1. Makanan yang mengandung vitamin B kompleks. Makanan yang menyimpan vitamin B kompleks ini sangat dibutuhkan untuk memproduksi sel darah merah. Beberapa buah-buahan yang menyiman vitamin B kompleks adalah kurma, alpukat, nanas, pisang, dan delima. Vitamin B kompleks memiliki fungsi untuk menyokong dan memproduksi sel darah merah dalam tubuh kita.
  1. Makanan yang mempunyai kandungan Vitamin B-12. Salah satu vitamin B kompleks yang berfungsi untuk menambah darah dalam tubuh adalah vitamin B-12. Vitamin ini memiliki fugsi dalam produksi sel darah merah dan sintesisi DNA. Makanan yang memiliki kandungan vitamin B-12 adalah daging merah, susu, telur, serela, ikan dan hati sapi.
  1. Makanan yang mengandung Vitamin C. Vitamin C mempunyai fungsi untuk menyokong penyerapan zat besi ke dalam tubuh kita. Berbagai macam buah-buahan yang memiliki kandungan vitamin C diantaranya adalah jambu biji, manga, nanas, melon, dan jeruk. Dari kesekian banyak buah tersebut, jambu biji tergolong buah yang memiliki kandungan vitamin C sebanyak 2x lipat dari vitamin C yang ada pada buah lainnya.
  1. Makanan yang mempunyai kandungan asam folat. Asal folat merupakan vitamin B9 yang juga tergolong jenis dari vitamin B kompleks. Vitamin ini memiliki fungsi untuk membuat sel darah merah yang baru. Jika kita kekurangan asam folat maka tubuh kita akan menderita kekurangan zat besi. Berikut ada beberapa macam makanan yang memiliki kandungan asam folat beberapa diantaranya pisang, roti, jeruk, pasta, sereal, kacang polong, kacang kering, kacang-kacangan lainnya.

Itulah beberapa makanan penambah darah yang bergizi dan bisa membantu untuk menambah darah, jika dengan memakan makanan yang ada di atas tetapi Anda tetap merasakan gejala mudah letih, lemas, dan merasa lesu bisa di tambah dengan suplemen untuk membantu penambah darah.

Konsumsi Makanan ini Untuk Mencegah Anemia

Berbagai makanan penambah darah bisa ditemukan dalam sekitar kita. Untuk mencegah penyakit anemia, makanan penambah darah perlu dikonsumsi agar kondisi tubuh tetap terjaga dengan baik.

Proses peredaran oksigen ke semua sel dan jaringan tubuh akan terganggu ketika seseorang mengalami gejala kurang darah. Hal ini menyebabkan kondisi tubuh akan terasa lemas, pusing kepala, hingga kulit pucat.

Penyakit anemia bisa dicegah dengan cara mengkonsumsi beragam jenis makanan penambah darah. Jenis makanan penambah darah ada banyak, diantaranya seperti sayuran hijau, buah-buahan, daging merah, hingga biji-bijian.

Berikut ini ada beberapa makanan penambah darah yang bisa anda konsumsi:

1. Sayuran Berdaun Hijau

Sayuran berdaun hijau terutama berwarna hijau gelap merupakan salah satu sayuran yang memiliki kandungan zat besi non-heme. Beberapa sayuran berdaun hijau yang memiliki zat besi seperti brokoli dan bayam.

Untuk membantu proses penyerapan zat besi dari sayuran hijau, Sebaiknya anda juga mengkonsumsi vitamin C. Sayuran berdaun hijau yang mengandung vitamin C maupun membantu meningkatkan penyerapan zat besi, seperti bayam, brokoli, dan kale.

2. Daging Merah dan Unggas

Daging merah maupun daging unggas memiliki kandungan zat besi heme. Daging domba dan daging sapi termasuk salah satu daging merah. Lalu, yang termasuk daging unggas seperti ayam dan bebek. Jika dibandingkan dengan sayuran berdaun hijau, kandungan vitamin C dalam daging merah dan unggas dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

3. Hati

Organ hati memiliki kandungan zat besi maupun folat yang sangat banyak dan bisa dikonsumsi oleh penderita penyakit anemia. Organ hati yang bisa anda konsumsi yaitu, hati sapi dan hati ayam. Tetapi, Mengkonsumsi hati secara berlebihan bisa meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

4. Seafood

Beberapa makanan laut atau seafood ternyata juga memiliki kandungan zat besi heme yang baik. Salah satu contoh makanan laut di antaranya seperti kerang, kepiting, dan udang. Ikan tuna dan ikan kembung merupakan ikan yang memiliki kandungan zat besi sangat tingggi.

Mengkonsumsi kalsium bersamaan dengan makanan laut bisa mengurangi penyerapan pada zat besi. Oleh karena itu, Mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium bersamaan dengan makanan kaya zat besi harus dihindari. Salah satu contoh makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti susu, yoghurt dan keju.

5. Kacang-kacangan

Ternyata kacang-kacangan memiliki sumber zat besi yang baik. Kacang merah, buncis, kedelai, kacang polong dan kacang hitam merupakan beberapa pilihan kacang yang tinggi zat besi.

6. Biji-bijian

Selain mengandung serat, Biji-bijian juga memiliki kandungan zat besi dan asam folat yang berfungsi untuk membangun darah dalam tubuh sehingga bisa mencegah penyakit anemia.

7. Buah-buahan

Beberapa macam buah-buahan juga bisa menjadi makanan penambah darah yang dapat dikonsumsi oleh orang pengidap penyakit anemia. Beberapa buah yang bisa dikonsumsi seperti semangka, apel, delima, stroberi, jeruk, dan pisang.

Itulah beberapa makanan penambah darah yang bisa Anda konsumsi untuk mencegah terjadinya penyakit anemia. Jika perlu, gunakan suplemen penambah darah agar kebutuhan nutrisi darah harian Anda terpenuhi.

Gejala Anemia Dan Cara Ampuh Mengobatinya

Pernahkah Anda merasa lemah dan malas berkepanjangan? Terlepas dari kenyataan bahwa Anda bersemangat dalam melakukan aktivitas fisik, tubuh Anda akan merasa seperti tidak mempunyai energi untuk bergerak atau melakukan aktivitas. Maka dari itu, Anda harus berhati-hati. Ini mungkin merupakan indikasi anemia yang harus dirawat. Dari penjelasan American Society of Hematology, anemia yaitu suatu gejala di mana kapasitas sel darah merah (hemoglobin)menjadi rendah.

Hemoglobin yang kaya zat besi ini bertanggung jawab untuk membawa oksigen dari paru-paru ke otak besar dan berbagai organ penting lainnya. Perkembangan oksigen yang lancar ini akan bekerja dengan zat dalam tubuh untuk menghasilkan energi. Jadi, jika tubuh kekurangan pasokan hemoglobin, tidak heran jika Anda merasa lelah.

Selain mudah lelah, ada beberapa gejala anemia lain yang juga perlu Anda waspadai, khususnya:

1. Kelelahan Berkepanjangan

Jika Anda merasa lelah terus-menerus selama kurun waktu yang cukup lama, Anda mungkin mempunyai jumlah sel darah merah yang rendah. Dengan begitu, energi tubuh sangat bergantung pada oksidasi sel darah merah.

2. Terasa Sakit Di Dada

Kondisi ini dapat terjadi ketika ada beberapa sel darah merah mengalir di tubuh Anda. Jantung harus bekerja sangat keras untuk menyalurkan darah merah ke seluruh jaringan tubuh. Seperti yang dijelaskan oleh Reader’s Digest, inilah sebab mengapa dada Anda akan terasa perih. Karena jantung akan berdenyut lebih cepat, menyebabkan tekanan di dada.

3. Migrain

Penderita yang kekurangan zat besi secara terus-menerus akan mengalami migrain yang berkepanjangan. Terlebih lagi, tidak adanya sel darah merah akan membuat otak kekurangan aliran oksigen, sehingga kapasitas otak tidak berfungsi secara maksimal.

4. Inflamasi atau nyeri di Lidah

Kadar zat besi yang rendah di dalam tubuh juga menimbulkan masalah mulut, terutama lidah. Penderita penyakit ini akan mengalami efek pucat dan membengkak di bagian lidah. Sesuai National Library of Medicine, tidak adanya oksigen akan menyebabkan masalah pada lidah seperti bagian tubuh yang lainnya. Umumnya, lidah orang yang kurang darah akan timbul inflamasi atau nyeri.

5. Kulit Pucat

Jangan berharap bila Anda mempunyai kulit yang kelihatannya tampak sehat, tetapi membutuhkan lebih banyak sel darah merah. Terlebih lagi tanpa kerja zat besi dan nutrisi B12, suplai darah ke kulit akan berkurang. Yang akhirnya akan membuat warna kulitmu menjadi pucat, bahkan terlihat kuning, lho.

6. Sistem Imun Menurun

Zat antibodi tidak akan tersampaikan secara maksimal jika tubuh membutuhkan suplemen seperti zat besi. Oleh karena itu, penderita dengan kekurangan zat besi umumnya akan mempunyai sistem imun yang tidak sempurna. Orang yang kekurangan zat besi juga rentan terhadap beberapa penyakit, seperti influenza, batuk atau infeksi kulit.

Itulah sebagian besar dampak dari anemia. Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Kamu dapat mengkonsumsi makanan atau minuman yang ampuh dalam menambah darah diantaranya:

  1. Konsumsi Yogurt dan Kunyit
    1. Kismis dan Kurma
    1. Perbanyak Sayuran Hijau
    1. Tingkatkan Asupan Vitamin C
    1. Biji Wijen
    1. Jus Bit atau Delima

Agar anemia tidak menyebabkan masalah medis lainnya, Anda juga harus konsumsi makanan dan minuman penambah darah di atas, termasuk suplemen penambah darah yang dijual di apotek dan yang diberikan dokter.

Macam-Macam Obat Penambah Darah

Penyakit kurang darah atau biasa disebut dengan anemia dapat ditanggulangi dengan mengonsumsi obat penambah darah dan melegkapi asupan makanan tinggi akan kandungan zat besi. Obat penambah darah dapat dialokasikan saat menderita kondisi kurang darah, seperti anemia dan neutropenia. Anemia dapat terjadi saat darah tidak cukup menyipan sel-sel darah merah atau biasa disebut dengan hemoglobin, yaitu bagian utama sel darah merah yang mengikat oksigen. Alhasil, sel-sel dalam tubuh tidak memperoleh cukup oksigen. Sementara itu, neutropenia merupakan kondisi ketika jumlah sel darah putih neutrofil dalam tubuh rendah atau di bawah jumlah normal. Neutrofil berperan aktif dalam menangkal infeksi, terutama yang ditimbulkan oleh bakteri dan jamur. Lalu apa saja jenis obat yang cocok dikonsumsi oleh penderita anemia?

Obat Penambah Darah untuk Penderita Anemia

Ada berbagai macam obat penambah darah untuk penderita anemia, di antaranya:

Zat besi, vitamin B12, dan folat 

Untuk membuat sel darah merah, tubuh memerlukan asupan nutrisi zat besi, vitamin B12, dan folat. Apabila ketiga zat ini tidak dapat dipenuhi dari asupan nutrisi sehari-hari, tubuh akan mengalami anemia. Jika disebabkan oleh anemia defisiensi zat besi, tubuh akan membutuhkan tambahan suplemen zat besi agar metode penyusunan sel darah merah dapat berjalan dengan baik. Begitu pula jika kondisi kurang darah terjadi yang diakibatkan anemia defisiensi vitamin B12 dan folat. Tubuh akan membutuhkan suplemen vitamin B12 dan asam folat tambahan.

1. Recombinant human erythropoietin

Pertumbuhan sel darah merah di dalam darah disusun oleh hormon erythropoietin (EPO) yang dibuat oleh ginjal. Hormon ini tidak dapat dibentuk karena adanya penyakit tertentu  pada tubuh saat menderita KEKURANGAN ZAT BESI.

Recombinant human erythropoietin dapat dipakai untuk pemulihan bagi penderita anemia kronis yang disebabkan oleh gangguan pada hormon EPO, baik pada anak-anak maupun dewasa. Selain itu, obat penambah darah ini juga bisa dikonsumsi oleh pengidap gagal ginjal kronis, penderita kanker yang menjalankan kemoterapi, penderita HIV, dan penderita yang memerlukan transfusi darah dalam jangka panjang.

Meski demikian, obat ini tidak dapat dialokasikan pada penderita dengan tekanan darah tinggi yang tidak dapat dikendalikan, alergi pada produk yang berbahan dari protein hewan, epilepsi, gagal hati kronis, kelainan sel darah merah seperti anemia sel sabit yang berarti sekelompok gangguan yang bisa menyebabkan sel darah merah menjadi cacat dan rusak.

Obat Penambah Darah untuk Neutropenia

Untuk menangani penyakit neutropenia, ada berbagai jenis obat penambah darah yang dapat dikonsumsi, yaitu:

Recombinant human granulocyte colony stimulating factor

Perkembangan sel darah putih tergolong neutrofil di dalam tubuh yang terjadi di sumsum tulang dan dapat dikendalikan oleh zat yang biasa disebut granulocyte colony stimulating factor (G-CSF). Jika terjadi penyakit atau gangguan medis yang menahan kerja G-CSF, tubuh akan menderita kekurangan sel neutrofil atau neutropenia.

Ada berbagai macam obat penambah darah yang berguna untuk G-CSF buatan, yaitu lenograstim, filgrastim, dan pelfigrastim. Obat-obatan ini dapat dikonsumsi untuk penderita neutropenia yang disebabkan oleh beberapa kondisi, misalnya setelah kemoterapi, gangguan perkembangan sel darah putih, dan operasi transplantasi sumsum tulang. Obat penambah darah ini tidak bisa dikonsumsi kepada penderita dengan alergi terhadap obat G-CSF buatan, gangguan fungsi ginjal dan hati, serta penderita leukemia yang belum melewati pengobatan kemoterapi. Jika Anda menderita penyakit anemia atau neutropenia, cobalah untuk mengkonsumsi obat penambah darah yang tepat sesuai penyebab dari kondisi yang Anda alami secara rutin.

Gejala Anemia dan Pengobatannya

Apakah kamu pernah mendengar istilah anemia? Anemia atau kekurangan darah merupakan penyakit dimana kondisi tubuh seseorang kekurangan sel darah merah. Kondisi ini bisa terjadi akibat beberapa hal, yaitu berkurangnya produksi sel darah merah, perdarahan masif atau berkepanjangan, hingga penyakit lainnya yang dapat membuat sel darah merah cepat hancur dan rusak.

 Salah satu cara untuk mengatasi keluhan kurang darah atau anemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Untuk menunjang makanan yang mengandung ketiga nutrisi tersebut, maka disarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan.  Terdapat berbagai macam jenis obat yang dapat digunakan untuk menambah darah. Obat penambah darah dapat wujud suplemen, obat suntikan dan transfusi darah. Ketika sesorang didiagnosis mengalami anemia ringan, seseorang terkadang tidak merasakan adanya gejala umum. Jika tidak segera dilakukan pengobatan, dalam jangka waktu yang singkat penyakit Anemia dapat menjadi kian parah. Ketika seseorang mengidap anemia yang cukup parah, maka seseorang dapat mengalami beberapa gejala, yaitu:

  •     Lemas
  •     Cepat lelah
  •     Pusing
  •     Pucat
  •     Jantung berdebar
  •     Kuku dan rambut rapuh
  •     Kaki tangan dingin
  •     Napas berat atau sesak

            Gejala-gejala diatas bisa dirasakan hingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.  Apabila Anda mengalami gejala dari kekurangan darah pada tubuh. Anda disarankan untuk melakukan konsultasi pada dokter . Hal itu dilakukan agar dapat mengetahui penyebab anemia yang Anda alami. Hal ini dilakukan agar dokter dapat memberikan obat kurang darah sesuai dengan penyebabnya.

            Anemia terbagi menjadi 5 jenis, yaitu anemia defisiensi besi, anemia aplastik, anemia defisiensi folat dan vitamin B12 (anemia pernisiosa), anemia hemolitik, dan anemia sel sabi.  Karena ada banyak hal yang dapat menyebabkan anemia. Maka untuk pengobatannya juga harus disesuaikan dengan penyebabnya. Setelah dokter menentukan faktor penyebab anemia, dokter akan memberikan solusi utntuk kekurangan zat besi yang anda derita. Ada beberapa jenis obat anemia yang dapat diberikan oleh dokter, yaitu:

1. Suplemen zat besi

Zat besi merupakan salah satu bahan yang diperlukan tubuh untuk menghasilkan hormon hemoglobin. Asupan zat besi bisa juga diperoleh dari memakan makanan seperti daging sapi, hati sapi, ikan-ikanan, kacang-kacangan (terutama kedelai), serta coklat. Bukan hanya dari makanan saja, asupan nutrisi zat besi juga dapat diperoleh dari suplemen zat besi. Oleh karena itu, suplemen zat besi ini sangat umum diberikan sebagai obat yang dapat digunakan untuk mengobati anemia lantaran kekurangan zat besi.

2. Suplemen vitamin B12 dan asam folat

Selain suplemen zat besi, vitamin B12 dan asam folat juga merupakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk membantu memproduksi sel darah merah. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat dapat menyebabkan terjadinya anemia. Untuk melawan anemia seperti jenis ini, dokter akan memberikan resep obat kurang darah berupa suplemen .Tentu saja suplemen tersebut mengandung vitamin B12 serta asam folat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

3. Erythropoietin sintetik

Erythropoietin merupakan hormon yang diproduksi oleh ginjal untuk merangsang produksi sel darah merah pada tubuh. Ketika ginjal pada tubuh mengalami kerusakan berat, maka ginjal  akan sulit menghasilkan hormon ini. Akibatnya, penderita penyakit ginjal seperti gagal ginjal bisa menderita anemia. Untuk mengatasi terjadinya kurang darah yang disebabkan oleh kerusakan pada organ ginjal. Maka tubuh membutuhkan suplemen penambah darah seperti halnya dengan erythropoietin buatan. Obat ini dapat diaplikasikan melalui suntikan. Selain dapat mengobati anemia lantaran penyakit ginjal. Hormon ini juga dapat digunakan untuk mengobati anemia yang diakibatkan oleh efek samping kemoterapi dan obat zidovudine.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, untuk pengobatan penyakit Anemia harus sesuai dengan dosis tepat. Oleh karena itu,  Anda harus melakukan konsultasi terlebih dahulu pada dokter. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan.

Kenali Gejala Kurangnya Zat Besi Pada Anak

Kurangnya zat besi pada anak kerap tidak terdeteksi. Oleh sebab itu, Anda sebagai orang tua harus mengenali serta memahami beragam gejala pada anak yang mengalami kekurangan zat besi agar kondisi seperti ini dapat diketahui sedini mungkin. Karena, jika dibiarkan begitu saja tumbuh kembang anak akan terganggu.

Gejala pada anak anemia akan terlihat apabila asupan zat besi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Zat besi memiliki peran yang sangat besar dalam menyebarkan oksigen yang dibutuhkan semua jaringan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Pada saat kebutuhan zat besi pada anak tidak terpenuhi, pengaruhnya akan sangat besar.

Kebutuhan zat besi pada anak akan melonjak drastis ketika anak mulai memasuki usia MPASI. Itulah sebabnya perlu perhatian lebih agar kandungan zat besi dalam MPASI Si Anak terpenuhi.

–  Gejala Pada Anak Yang Kekurangan Zat Besi

Kurangnya zat besi pada anak bisa memiliki dampak negatif terhadap perilaku, kecerdasan , dan kemampuan otot-ototnya. Anak yang mengalami kekurangan zat besi lebih mudah terkena infeksi serta keracunan timbal.

Berikut ini merupakan beberapa gejala anak yang kekurangan zat besi:

1. Kulit Pucat

Salah satu dari gejala anak yang  kekurangan zat besi adalah kulit pucat. Kulit terlihat pucat karena tubuh kekurangan asupan zat besi dan membuat kadar hemoglobin pada sel darah merah menurun. Dampaknya yaitu, kulit kehilangan warna merahnya, sehingga terlihat  pucat.

2. Terlihat Kelelahan

Anak yang kekurangan zat besi akan terlihat lelah. Kelelahan bisa terjadi karena kurangnya asupan zat besi yang bisa membuat kadar hemoglobin pada tubuh menurun.

Kondisi seperti mengakibatkan pasokan oksigen ke jaringan tubuh terhambat dan menyebabkan jantung bekerja lebih extra untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Selain itu, sel-sel pada tubuh anak menjadi kekurangan oksigen untuk menghasilkan energi. Alhasil, anak jadi lebih rentan kelelahan.

3. Berat Badan Sulit Naik

Anak yang kekurangan zat besi, tubuhnya bergerak lebih extra untuk mendapatkan oksigen. Hal ini mengakibatkan energi Si Anak menjadi habis, sehingga kekuatannya untuk menyusu menjadi berkurang. Jika seperti itu, berat badannya akan semakin sulit untuk naik, bahkan bisa jadi turun.

4. Rewel

Kekurangan asupan zat besi pada anak diperkirakan bisa menurunkan produksi hormon dopamine (hormon yang dapat menimbulkan perasaan senang) yang membuat anak menjadi lebih rewel.

Rewel  merupakan gambaran dari gejala anak yang kekurangan zat besi, contohnya infeksi yang berkali-kali dan sakit kepala. Anak belum bisa mengutarakan keluhan ini dengan kata-kata dan hanya  menangis.

– Cara Mencukupi Kebutuhan Zat Besi Anak

Untuk memenuhi kebutuhan zat besi pada anak, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Memberikan ASI yang Cukup

Jika Si Kecil berusia kurang dari 6 bulan, pastikan kebutuhan ASI-nya terpenuhi. Tanda anak memperoleh ASI yang cukup adalah ketika anak terlihat bisa menelan ASI dengan baik, terlihat tenang saat menyusu, nampak puas, serta kelihatan senang sehabis menyusu.

2. Memberikan asupan makanan yang mengandung zat besi

Jika anak berusia 6-12 bulan dan telah siap untuk mengonsumsi MPASI, berikan Si Kecil berbagai macam  makanan yang mengandung zat besi. Misalnya kacang merah, ikan, daging, ayam, dan bayam. Jika masih bingung karena tidak dapat meyakinkan kandungan zat besi pada MPASI yang dibuat sendiri, Anda sebagai orang tua bisa memberikan Si Kecil bubur instan anak. Jangan ragu dengan kualitas bubur instan anak yang mayoritas dijual di pasaran, karena produk-produk tersebut sudah dipastikan melalui uji kelayakan makanan serta mengandung zat besi yang sesuai kebutuhan anak.

3. Memberikan makanan yang mengandung vitamin C

Tidak cukup hanya dengan memberikan makanan yang memiliki kandungan zat besi, Anda juga harus memberikan Si Kecil makanan yang mengandung nutrisi lainnya, contohnya vitamin C. Vitamin C merupakan asupan nutrisi yang kehadirannya mendukung proses penyerapan zat besi dalam tubuh.

4. Suplemen Penunjang

Apa sepatutnya anak diberikan suplemen zat besi agar kebutuhan nutrisi nya selalu terpenuhi?  Suplemen zat besi bisa diresepkan oleh dokter jika anak mempunyai berat badan yang kurang proporsional, lahir secara prematur, atau bahkan menderita kondisi medis tertentu. Karena itu, sebaiknya konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu sebelum memberikan suplemen zat besi kepada anak.

Itulah beberapa gejala anak yang memiliki penyakit kekurangan zat besi. Apabila anak  kekurangan zat besi, segera periksakan ke dokter agar dapat terdeteksi dan ditanggulangi sedini mungkin.

Makanan Yang Terbukti Atasi Anemia

Tidak adanya sel darah merah atau hemoglobin di dalam darah dapat menimbukan kondisi kurang darah atau anemia. Hemoglobin sendiri dimanfaatkan untuk mengantar oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Untuk menambah jumlah darah merah, Anda bisa makan jenis makanan tertentu. Berikut ini adalah sembilan jenis makanan penambah darah yang bisa mengalahkan Anemia.

1. Kurma

Kurma kaya akan zat besi, vitamin B kompleks, vitamin C, dan zat pencegah kanker. Oleh karena itu, anda dapat makan kurma secara konsisten untuk mengontrol kadar darah merah dalam tubuh Anda.

2. apel

Apel adalah sumber zat besi yang mengandung banyak nutrisi dan mineral. Buah alami ini bisa membangun kadar hemoglobin sehingga mampu mengobati kekurangan zat besi. Maka dari itu, makan satu apel setiap hari mampu mengontrol jumlah darah merah Anda.

3. Madu

Madu kaya akan zat besi, nutrisi dan mineral yang penting bagi tubuh. Anda dapat menikmatinya dengan jus lemon untuk meningkatkan kadar hemoglobin di dalam tubuh sebagai salah satu solusi yang paling tepat untuk meningkatkan kadar jumlah darah dan menangani kekurangan zat besi.

4. Buah Jeruk

Buah jeruk kaya vitamin C yang membantu konsumsi zat besi dalam darah. Produk alami seperti jeruk, jeruk nipis , dan lemon, dapat mengobati kekurangan zat besi.

5. Delima

Delima kaya akan zat besi, protein dan kalsium. Buah yang satu ini juga mengandung mineral dan nutrisi penting yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin dalam tubuh.

6. Pisang

Pisang kaya akan zat besi, potasium, dan nutrisi serta mineral penting bagi tubuh. Makan satu pisang setiap hari dapat memperbaiki kekurangan zat besi, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh Anda.

7. Tomat

Tomat merupakan sumber vitamin C dan likopen yang luar biasa. Vitamin C dalam tomat membantu memajukan konsumsi zat besi dalam darah.

8. Hati

Hati mengandung banyak zat besi, nutrisi B12, seng dan fosfor. Oleh karena itu, Anda bisa memanggang hati di oven dan setelah itu memakannya. Hati dapat membangun kadar zat besi dalam tubuh, sehingga dapat melawan kurang darah.

9. Makanan kaya zat besi

Sumber makanan yang kaya akan zat besi dapat mengobati penyakit anemia. Terlebih lagi, Hemoglobin terbuat dari besi dan beberapa protein. Oleh karena itu, Anda perlu mengkonsumsi sumber makanan yang kaya zat besi untuk menu harian Anda. Sumber makanan kaya zat besi termasuk bayam dan sayuran hijau, kerang, beras merah, hati, kurma, kismis, anggur dan biji wijen.

Setelah mengetahui sembilan jenis makanan yang dapat meningkatkan kadar darah merah dalam tubuh. Makanan diatas bukan satu-satunya cara dalam menangani gejala anemia, Anda juga bisa mengkonsumsi obat penambah darah di apotek terdekat atau obat yang diberi dokter. Perlu diingat, anemia dapat mengganggu aktivitas Anda setiap hari, jika tidak dikendalikan dengan tepat.

Kekurangan Zat Besi Berdampak pada Kemampuan Belajar

Halo Bund, apakah Si Kecil  sulit berkonsentrasi ketika belajar? Mohon untuk dicermati ya, bisa jadi hal ini disebabkan karena anak Anda mengalami kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi adalah kondisi saat kadar ketersediaan zat besi pada tubuh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan harian.

Konsentrasi dan kemampuan belajar anak yang menurun merupakan salah satu gejala akibat kekurangan zat besi. Kekurangan zat besi mengakibatkan Si Kecil malas untuk mengerjakan tugas ataupun PR.

Secara fisik, anak yang menderita defisiensi zat besi terlihat pada bagian bawah mata yang nampak begitu pucat, pandangan menjadi berkunang-kunang, sering pusing, telapak tangan serta kuku tampak pucat, dan mengalami gejala 5L, antara lain: lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai.

Kebutuhan harian zat besi pada anak seharusnya menjadi perhatian lebih bagi para orangtua. Sebuah laporan penelitian mengemukakan bahwa zat besi adalah salah satu vitamin dan mineral yang begitu krusial untuk mendukung kemampuan belajar pada anak.

Faktanya masih cukup banyak orangtua yang belum bisa  memenuhi kebutuhan gizi pada anak, terutama kebutuhan  zat besinya. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak balita Indonesia mengidap penyakit anemia. Data lain membuktikan bahwa lebih dari 40 persen balita pada negara berkembang mengidap anemia dan 50% hingga 60% masalah anemia diakibatkan karena kekurangan zat besi.

Kurangnya zat besi pada anak memiliki berbagai dampak jangka panjang maupun jangka pendek. Contohnya gangguan pada perkembangan kognitif, motorik, sensorik, serta perilaku bahkan emosi. Terlebih jika Si Kecil telah menginjak usia sekolah, kekurangan zat besi mengakibatkan fokus saat pembelajaran menurun, ketidak-sanggupan belajar, serta perkembangan menjadi terhambat.

Prof. Fikawati mengatakan bahwa kekurangan zat besi pada tubuh seseorang bisa mengganggu kinerja intelektual dan performa kognitif, serta terlambatnya psikomotorik saat anak berada pada usia pra-sekolah. Anak pada usia 6-16 tahun yang mengidap defisiensi zat besi mempunyai nilai matematika dan kemampuan membaca yang lebih rendah dibandingkan anak normal pada umumnya.

Terlambatnya perkembangan kognitif dan psikomotor yang diakibatkan karena kekurangan zat besi ketika anak telah menginjak usia sekolah mengakibatkan anak tersebut mengalami hambatan kinerja saat tes bahasa, keterampilan motorik, serta koordinasi yang setara dengan defisit 5 sampai 10 poin dalam IQ.

– Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Zat Besi pada Anak

Prof. Dr. Ir. Hj. Netti Herawati, M.Si juga mengatakan bahwa anak yang mengalami kekurangan gizi tidak lagi memiliki minat  belajar. Karena itu, orang tua harus cermat dalam memastikan anak mereka memperoleh nutrisi sebelum memulai kegiatan pembelajaran, sehingga Si Kecil merasa nyaman untuk belajar. Ketika orang tua memperhatikan asupan yang bergizi , itu artinya orang tua telah mendukung proses belajar anak supaya dapat menyerap ilmu dengan optimal dan maksimal.

Untuk mencukukupi kebutuhan gizi pada anak terutama zat besi, pastikan Si Kecil memiliki pola makan yang seimbang serta proses penyerapan zat besi yang baik. Prof. Fikawati mengungkapkan bahwa anak pada usia 1-3 tahun memerlukan 7mg zat besi setiap hari. Jika pola makan anak tidak seimbang, penyerapan zat besi pada saluran pencernaan akan mengalami gangguan yang mengakibatkan cadangan zat besi pada tubuh menjadi berkurang.

Ketika anak telah menginjak  usia 1 tahun ke atas dan telah bisa mengonsumsi makanan rumahan, orang tua wajib memastikan bahwa makanan yang dikonsumsi telah mengandung zat besi. Zat besi dapat dijumpai dalam daging sapi bahkan ayam, hati, telur, kacang-kacangan, ikan, maupun sayuran.

Bukan itu saja Bund, Anda sebagai orang tua juga perlu memastikan sumber vitamin C untuk mendukung penyerapan zat besi pada tubuh anak. Kombinasi zat besi bersamaan dengan vitamin C dapat ditemukan dalam makanan bahkan minuman terfortifikasi zat besi dan vitamin C misalnya susu pertumbuhan anak di atas usia 1 tahun.

Maka dari itu sebagai orang tua diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan zat besi Si Kecil dari sekarang agar tumbuh kembangnya dapat berjalan dengan optimal! Jika diperlukan, tambahkan suplemen penambah darah agar kebutuhan zat besi harian terpenuhi dengan maksimal.

Kekurangan Zat Besi Membuat Anak Mogok Makan

Pernahkah Anda mengalami masalah dimana anak Anda tidak mau makan atau susah untuk makan? Ketika anak telah menginjak usia 6-12 bulan, normalnya telah diperkenalkan dengan MPASI untuk menghindari masalah pada pertumbuhannya. Tetapi, tidak selamanya memberikan MPASI pada anak dapat berjalan dengan lancar.  Banyak orang tua yang mendapati anaknya melakukan mogok makan atau bisa disebut juga dengan melakukan gerakan tutup mulut (GTM), yang tanpa disadari dapat menyebabkan kurangnya zat besi pada anak.

Apakah kekurangan zat besi dapat memicu anak mogok makan ? Menurut penjelasan IDAI, balita yang telah menginjak usia 6-12 bulan mengalami pertumbuhan yang begitu cepat sehingga rentan terserang penyakit Anemia Defisiensi Besi atau kekurangan zat besi. Kondisi ini umumnya terjadi pada balita yang hanya meminum ASI tanpa diberikan MPASI meski telah menginjak usia 6 bulan. Pada anak usia 6 -12 bulan, ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan  zat besi yang semakin meningkat.

Kekurangan zat besi juga disebabkan karena balita mendapat MPASI tapi zat besi pada MPASI-nya belum dapat memenuhi kebutuhan harian. Misalnya, balita yang jarang mengkonsumsi MPASI dari olahan daging ataupun hati ayam yang diketahui memiliki banyak kandungan zat besi.

Salah satu pengaruh kekurangan zat besi pada anak adalah hilangnya nafsu makan sehingga melakukan gerakan tutup mulut. Pada akhirnya dapat membentuk salah satu rantai penyakit yang sulit untuk terputus. Untuk memutus mata rantai penyakit tersebut, usahakan ketika Si Kecil melakukan mogok makan dan berat badannya tidak mengalami kenaikan, segera konsultasikan kondisi ini pada dokter spesialis anak. Jika terdapat kecurigaan penyakit kekurangan zat besi , biasanya dokter meminta  untuk melakukan proses skrining anemia defisiensi besi agar mengetahui sejauh mana kecurigaan tersebut.

Kalau si kecil terbukti menderita penyakit anemia defisiensi besi atau kekurangan zat besi, dokter akan memberikan resep suplemen zat besi dalam bentuk tablet maupun sirup dengan tujuan untuk membantu mengembalikan kadar zat besinya agar tetap normal.

Pola makan Si Kecil harus segera diubah, misalnya dengan menambahkan makanan yang kaya akan zat besi pada MPASI-nya. Contohnya, sereal yang diperkaya zat besi, kacang-kacangan, kuning telur, sayuran berdaun hijau tua seperti kangkung dan bayam, hati ayam, daging sapi, daging ayam dan daging ikan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah Anda sebagai orang tua harus lebih optimal dan efektif untuk melakukan skrining ADB pada si Kecil  setiap 6 bulan sekali. Selanjutnya yaitu dengan memberikan makanan yang memiliki banyak kandungan zat besi untuk menghindari Si Kecil terserang kurang darah Defisiensi Besi atau kekurangan zat besi agar tidak melakukan gerakan tutup mulut yang dapat mengakibatkan tumbuh kembangnya terganggu.

Kenali Gejala Anemia Sejak Dini

            Pernahkah kalian mendengar tentang penyakit Anemia? Penyakit Anemia merupakan suatu kondisi tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat. Akibatnya, organ pada tubuh tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup. Sehingga membuat orang yang menderita anemia pucat dan mudah lelah. Penyakit Anemia dapat berlangsung dalam waktu yang singkat hingga dalam jangka waktu yang lama. Penyakit Anemia dalam arti lain yaitu penyakit kekurangan sel darah atau kelainan hematologi (gangguan yang memengaruhi jumlah dan fungsi darah Anda) yang terjadi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal.

            Gejala penyakit kurang darah dapat dikenali dengan tanda-tanda seperti mudah marah , tubuh menjadi lemah, sakit kepala, sulit berfikir, dan sulit berkonsentrasi. Selain itu jika penyakit Anemia semakin parah. Akan muncul gejala seperti warna mata akan menjadi biru, kuku mudah rapuh, pusing ketika berdiri, kulit pucat, dan sesak napas.

            Penyakit Anemia jika dibiarkan atau tidak diobati akan berakibat fatal karena dapat menyebabkan penyakit seperti gagal jantung. Jika Anda mengalami gejala penyakit anemia segera lakukan konsultasi pada dokter. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit kekurangan zat besi. Berikut gejala-gejala dan solusi pengobatan anemia berdasarkan penyebabnya:

1.Anemia Defisiensi Vitamin B12

Vitamin B12 merupakan vitamin yang berperan dalam pembentukan protein dan sel darah. Anemia jenis ini dapat dikenali dengan munculnya berbagai gejala pada tubuh. Berikut ini gejala-gejala anemia yang disebabkan karena kekurangan vitamin B12, yaitu:

  • Kuning pucat pada kulit Anda
  • Lidah sakit dan merah
  • Sariawan
  • Kesemutan
  • Perubahan dalam cara Anda berjalan dan bergerak
  • Penglihatan terganggu
  • Sifat cepat marah

 Apabila Anda mengalami gejala-gejala seperti di atas. Langkah yang harus Anda ambil selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan vitamin B12. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12, Anda dapat melakukannya dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B12 ini. Ada banyak makanan yang memiliki kandungan vitamin B12 tinggi, seperti:

  • Kerang
  • Kepiting
  • Ikan Sarden
  • Ikan Salmon     

2. Defisiensi Asam Folat

            Anemia juga dapat disebabkan karena kekurangan asam folat pada tubuh. Asam folat berfungsi membantu tubuh kita dalam memperbaiki DNA dan memproduksi sel darah merah. Gejala yang diderita oleh orang dengan memiliki anemia yang disebabkan oleh kekurangan folat dapat mencakup:

  • Sering merasakan kesemutan pada kaki dan tangan
  • Kelemahan otot
  • Depresi

            Obat yang dibutuhkan untuk mengatasi anemia defisiensi asam folat adalah mengkonsumsi makanan dan suplemen. Ada banyak jenis makanan yang mengandung asam folat tinggi. Sebagai contoh yaitu roti, kacang-kacangan, buah alpukat, dan brokoli.

            Untuk menunjang makanan di atas maka disarankan untuk meminum suplemen penambah darah. Ada banyak jenis suplemen untuk meningkatkan produksi sel darah merah pada tubuh dari berbagai merek. Jangan mulai mengkonsumsi suplemen penambah darah sendiri. Kecuali Anda mendapat saran dari dokter untuk mengkonsumsi suplemen sesuai dengan resep. Terutama jika Anda memiliki riwayat penyakit kronis.